394.608
perceraian tercatat di Indonesia sepanjang 2024.
Satu angka. Ratusan ribu cerita keluarga.
Angka itu berhenti di tabel statistik. Yang tidak berhenti adalah hidup yang berjalan sesudahnya: rumah yang berpindah, rutinitas yang disusun ulang, kalender yang terbagi dua, dan percakapan yang harus dijelaskan kepada orang-orang yang bertanya.
Setiap keluarga punya alasannya sendiri, dan tidak ada orang luar yang berhak menilai. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang muncul dalam pembicaraan tentang perceraian.
Perceraian sepanjang 2025 — naik sekitar 11 persen dibanding tahun sebelumnya (BPS).
Perkara dengan faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, penyebab terbesar pada 2025 (BPS).
Perkara perceraian pada 2025 diajukan oleh pihak istri, tercatat sebagai cerai gugat (BPS).
Bagaimana dengan anak-anak mereka?
Data resmi tidak mencatat secara rutin berapa banyak anak yang orang tuanya bercerai setiap tahun. Buku ini tidak akan mengarang angka itu.
Ketika kita sibuk memikirkan siapa yang benar
Sudahkah kita memikirkan apa yang dirasakan anak?
Perdebatan tentang perceraian hampir selalu berputar di sekitar dua orang dewasa: siapa yang lebih dulu menyakiti, siapa yang lebih banyak berkorban, siapa yang berhak pergi. Sementara itu ada beberapa hal yang jarang ditanyakan.
- Seberapa jauh anak memahami apa yang sedang terjadi?
- Apakah ia merasa harus memilih di antara kedua orang tuanya?
- Apakah ia merasa kehilangan salah satu dari mereka?
- Bagaimana hari-harinya berjalan setelah keluarga berubah bentuk?
Namun ada hal yang perlu dipikirkan lebih dalam
Perceraian bukan satu-satunya hal yang berkaitan dengan penyesuaian anak.
Penelitian tentang keluarga menunjukkan bahwa konflik orang tua yang berlangsung terus-menerus — pertengkaran yang berulang, penghinaan, atau ketegangan yang tidak pernah selesai — juga berkaitan dengan masalah penyesuaian pada anak. Hal itu berlaku baik di rumah yang terpisah maupun di rumah yang masih utuh.
Artinya, rumah yang utuh belum tentu rumah yang terasa aman. Dan perpisahan yang dijalani dengan tenang bisa jauh lebih ringan bagi anak dibanding pernikahan yang setiap hari menjadi medan perang.
Karena itu pertanyaannya bukan sekadar “haruskah kita bercerai?”, melainkan “apa yang paling bertanggung jawab bagi anak kita?”
Dua pertanyaan itu terlihat mirip. Jawabannya bisa sangat berbeda.
Mungkin kita tidak pernah mendengar pertanyaan ini
Anak jarang bertanya langsung. Mereka menyimpannya — dibawa ke sekolah, ke tempat tidur, ke perjalanan pulang. Sebagian anak mungkin menyimpan pertanyaan seperti ini, dan tidak menyampaikannya kepada siapa pun.
“Apakah Ayah masih sayang aku?”
“Apakah Ibu akan tetap ada untukku?”
“Apakah ini salahku?”
“Apakah aku harus memilih?”
Tidak semua anak menyimpan pertanyaan yang sama, dan tidak semua anak terluka dengan cara yang sama. Tetapi ketika pertanyaan itu ada dan tidak pernah dijawab, anak akan menjawabnya sendiri — biasanya dengan kesimpulan yang keliru.
Karena ada satu suara yang sering terlupakan
Suara anak.
Buku ini mengajak orang tua melihat persoalan rumah tangga bukan hanya dari kursi suami dan istri, tetapi juga dari ketinggian satu meter dua puluh sentimeter — dari mata anak yang tinggal di rumah yang sama.
Bukan untuk menambah rasa bersalah. Orang tua yang sedang menghadapi konflik biasanya sudah cukup lelah tanpa tambahan itu.
Tetapi karena anak akan ikut menjalani apa pun yang diputuskan, sementara ia tidak punya suara dalam rapat yang menentukan masa depannya.
Anda tidak akan menemukan kalimat “jangan bercerai demi anak”. Anda akan menemukan pertanyaan: sebelum kita memilih bertahan atau berpisah, sudahkah kita memikirkan anak?
Pertanyaan pertama menutup pintu. Pertanyaan kedua membuka ruang untuk berpikir.
Mengapa Raka Adinata menulis buku ini
Raka Adinata menulis tentang hubungan, keluarga, dan keputusan yang mengubah kehidupan.
Buku ini lahir dari satu kegelisahan sederhana: ketika orang dewasa mengambil keputusan besar dalam keluarga, suara anak jangan sampai terlupakan.
Ia bukan psikolog, bukan konselor, dan bukan hakim yang menentukan apakah sebuah pernikahan layak dipertahankan. Karena itu buku ini tidak memberi vonis. Yang ia lakukan adalah membaca penelitian yang ada, menyusunnya dalam bahasa yang bisa dipahami siapa saja, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab sebelum keputusan besar diambil.
12 bab yang mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda
Sekitar 70 halaman, disusun sebagai satu perjalanan: dari memahami bagaimana kita sampai di sini, sampai memutuskan apa yang harus dijaga sesudahnya.
- 01
Kita Pernah Saling Mencintai
Bagaimana dua orang yang pernah saling memilih bisa sampai di titik ini. Bukan karena satu peristiwa besar, melainkan karena luka yang menumpuk pelan-pelan.
- 02
Ketika Rumah Tidak Lagi Terasa Seperti Rumah
Tentang pertengkaran, diam yang berkepanjangan, dan anggapan bahwa anak belum mengerti apa-apa.
- 03
Apakah Kita Benar-Benar Ingin Bercerai?
Membedakan “saya ingin mengakhiri pernikahan ini” dari “saya ingin mengakhiri rasa sakit di dalamnya”.
- 04
Anak Tidak Pernah Meminta Kita Bercerai
Daftar hal-hal kecil yang berubah dalam hidup seorang anak — daftar yang jarang ditulis siapa pun.
- 05
Luka Anak yang Tidak Selalu Terlihat
Apa yang ditemukan penelitian, dan sama pentingnya, apa yang tidak ditemukan. Dilengkapi cara membaca angka risiko tanpa panik.
- 06
Ketika Anak Terjebak di Tengah
Anak sebagai kurir, sebagai tempat curhat, sebagai pihak yang diminta memilih. Dan mengapa ini bisa terjadi di rumah mana pun.
- 07
Rumah yang Utuh Belum Tentu Keluarga yang Sehat
Bab yang paling jujur: bertahan tanpa perubahan bukanlah pilihan yang netral, dan keselamatan tidak bisa ditawar dengan keutuhan.
- 08
Bercerai atau Bertahan: Mana yang Terbaik untuk Anak?
Mengapa pertanyaan itu keliru, dan pertanyaan mana yang sebenarnya menentukan.
- 09
Sudahkah Kita Mencoba Memperbaiki?
Perbedaan antara bertengkar dan membicarakan, serta bentuk bantuan yang tersedia di Indonesia.
- 10
20 Pertanyaan Sebelum Kita Bercerai
Bab kerja. Bukan untuk dibaca, melainkan untuk dijawab dan disimpan.
- 11
Jika Akhirnya Kita Memilih Berpisah
Enam hal yang harus dijaga agar perpisahan tidak berlanjut menjadi perang, dan apa yang perlu didengar anak dari kalian berdua.
- 12
Jika Kita Memilih Mencoba Lagi
Bertahan yang berisi, bukan bertahan yang menunda. Termasuk cara mengukur apakah ada yang benar-benar berubah.
Ditambah prolog dari sudut pandang seorang anak, epilog, dan daftar rujukan yang bisa Anda telusuri sendiri.
Ini bukan sekadar nasihat
Keputusan besar membutuhkan pemahaman yang lebih besar.
Setiap klaim dalam buku ini punya sumbernya, lengkap dengan tahun, dan bisa Anda periksa sendiri.
- Data perceraian resmi dari Badan Pusat Statistik, dengan tahun yang disebutkan jelas dan tidak dicampur antarperiode.
- Meta-analisis dan tinjauan sistematis tentang anak dan perceraian, bukan opini penulis.
- Penelitian tentang konflik orang tua dan pengaruhnya pada anak, termasuk pada keluarga yang tidak bercerai.
- Temuan tentang pengasuhan setelah perpisahan — faktor yang paling menentukan menurut penelitian.
- Pertanyaan reflektif di setiap bab, untuk dijawab sendiri atau bersama pasangan.
- Rujukan bantuan yang tersedia di Indonesia, termasuk untuk situasi kekerasan dalam rumah tangga.
Cara buku ini memperlakukan data
Sebagian besar penelitian tentang perceraian bersifat korelasional: ia menunjukkan adanya hubungan, bukan membuktikan sebab-akibat. Karena itu buku ini memakai kata “dapat”, “berisiko”, dan “pada sebagian anak” — bukan “pasti”. Anda juga akan menemukan penjelasan tentang keterbatasan penelitian yang dikutip, termasuk temuan bahwa sebagian besar anak pada akhirnya mampu melewati masa sulit itu.
Sebagian rujukan yang digunakan: Badan Pusat Statistik (2024; 2025) · Amato & Keith, Psychological Bulletin (1991) · Amato, Journal of Family Psychology (2001) · Kelly & Emery, Family Relations (2003) · Buehler dkk., Journal of Child and Family Studies (1997) · Auersperg dkk., Journal of Psychiatric Research (2019) · van Dijk dkk., Clinical Psychology Review (2020). Daftar lengkapnya ada di bagian akhir ebook.
Lebih dari sekadar ebook
Anda juga mendapatkan lima alat refleksi yang bisa dicetak dan dikerjakan — dirancang untuk ditulisi, bukan hanya dibaca.
Bonus 1
30 Pertanyaan Sebelum Kita Bercerai
Versi lengkap dan diperluas dari bab pertanyaan, dengan ruang isian di setiap nomor.
Nilai Rp 30.000
Bonus 2
Checklist: Masih Bisa Diperbaiki atau Sudah Saatnya Berhenti?
Alat refleksi untuk melihat gambaran keseluruhan sekaligus. Tanpa skor, tanpa vonis.
Nilai Rp 25.000
Bonus 3
Panduan Berbicara dengan Anak tentang Perceraian
Pendekatan berbeda untuk anak usia dini, usia sekolah, dan remaja — termasuk contoh kalimatnya.
Nilai Rp 40.000
Bonus 4
21 Kalimat yang Jangan Pernah Diucapkan kepada Anak
Kalimat yang bermasalah, alasannya, dan alternatif yang lebih sehat untuk menggantikannya.
Nilai Rp 30.000
Bonus 5
Workbook “Kalau Kita Bercerai…” — Peta Masa Depan Anak Kita
Membandingkan kemungkinan kehidupan anak satu, tiga, dan lima tahun ke depan pada setiap pilihan. Tidak ada jawaban yang disediakan; Anda yang mengisinya.
Nilai Rp 45.000
Nilai kelima bonus: Rp 170.000. Semuanya sudah termasuk, tanpa biaya tambahan.
Jika Anda ingin berpikir lebih jernih sebelum memutuskan
Buku ini ditulis untuk orang tua yang:
- ingin memahami posisi anak dalam keputusan orang dewasa
- ingin tahu apa kata penelitian tentang konflik orang tua
- sedang menimbang masa depan keluarganya
- ingin memperbaiki komunikasi dengan pasangan
- ingin mengambil keputusan dengan lebih matang
- ingin tetap melindungi anak, apa pun keputusan akhirnya
Buku ini tidak memberi keputusan untuk Anda. Buku ini membantu Anda berpikir.
Bukan tentang bertahan atau berpisah
Tetapi tentang memikirkan akibatnya.
Perspektif anak
Melihat keputusan orang dewasa dari sisi orang yang paling kecil di rumah itu.
Data dan riset
Bersandar pada penelitian yang dapat ditelusuri, bukan pada opini atau pengalaman satu orang.
Refleksi
Setiap bab berhenti untuk mengajukan pertanyaan tentang keluarga Anda sendiri.
Tindakan
Dilengkapi workbook, checklist, dan panduan praktis yang bisa langsung dikerjakan.
Kalau Kita Bercerai
Sudahkah kita memikirkan anak?
Ebook oleh Raka Adinata, lengkap dengan lima alat refleksi. Format PDF, bisa dibaca di ponsel maupun dicetak.
- Ebook Kalau Kita Bercerai — 70 halaman, 12 babRp 150.000
- Bonus 1 — 30 Pertanyaan Sebelum Kita BerceraiRp 30.000
- Bonus 2 — Checklist Masih Bisa Diperbaiki?Rp 25.000
- Bonus 3 — Panduan Berbicara dengan AnakRp 40.000
- Bonus 4 — 21 Kalimat yang Jangan DiucapkanRp 30.000
- Bonus 5 — Workbook Peta Masa Depan Anak KitaRp 45.000
- Nilai seluruh paketRp 320.000
Harga khusus untuk 100 pembeli pertama
Harga hari ini
Rp 97.500
Hemat Rp 222.500 dari nilai paket.
Sekali bayar, akses selamanya. Setelah pembayaran, tautan unduhan dikirim ke email Anda.
Setelah 100 pembeli pertama, harga kembali ke Rp 150.000.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah buku ini menyuruh saya untuk tidak bercerai?
Tidak. Buku ini tidak menentukan keputusan Anda dan tidak berpihak pada salah satu pilihan. Yang dilakukannya adalah mengajak Anda mempertimbangkan anak dan konsekuensi dari setiap pilihan, lalu memutuskan sendiri.
Bagaimana kalau saya sudah memutuskan untuk berpisah?
Buku ini tetap relevan. Sebagian besar isinya justru membahas apa yang menentukan setelah keputusan diambil: bagaimana menjaga hubungan anak dengan kedua orang tua, menurunkan konflik, dan menciptakan stabilitas. Bab 11 ditulis khusus untuk situasi itu.
Apakah cocok untuk pasangan yang masih ingin mempertahankan pernikahan?
Ya. Bab 9 membahas bentuk-bentuk usaha perbaikan yang bisa ditempuh dan bantuan yang tersedia di Indonesia, dan Bab 12 membahas cara membangun kesepakatan baru yang konkret. Buku ini juga tidak menjanjikan bahwa konseling pasti menyelamatkan pernikahan.
Apakah buku ini ditulis oleh psikolog?
Tidak. Raka Adinata adalah penulis tentang hubungan, keluarga, dan keputusan yang mengubah kehidupan — bukan psikolog, konselor, atau ahli perceraian. Karena itu buku ini tidak memberi diagnosis maupun nasihat klinis. Isinya bersandar pada penelitian yang sumbernya dicantumkan, dan pembaca yang membutuhkan pendampingan diarahkan ke tenaga profesional.
Apakah isinya hanya membahas dampak perceraian?
Tidak. Bagian yang cukup besar justru membahas konflik orang tua di rumah yang masih utuh, karena penelitian menunjukkan hal itu juga berkaitan dengan penyesuaian anak. Ada juga bab tentang usaha perbaikan dan bab tentang membangun hubungan yang baru.
Apakah ada workbook?
Ada. Bonus 5 adalah workbook “Peta Masa Depan Anak Kita”, dengan ruang isian untuk membandingkan kemungkinan kehidupan anak satu, tiga, dan lima tahun ke depan pada setiap pilihan. Bonus 1 dan 2 juga berbentuk lembar kerja.
Apakah ebook ini cocok dibaca bersama pasangan?
Cocok, dan akan lebih bermanfaat kalau dikerjakan berdua — terutama bagian pertanyaan reflektif dan workbook. Tetapi tidak menjadi syarat. Kejernihan satu orang tetap bernilai, dan banyak bagian bisa dikerjakan sendiri.
Apakah buku ini menyalahkan orang tua yang bercerai?
Tidak. Buku ini tidak menghakimi siapa pun yang bercerai maupun siapa pun yang memilih bertahan. Ia juga menegaskan bahwa dalam situasi kekerasan, keselamatan harus didahulukan dan tidak ada seorang pun yang berkewajiban bertahan di rumah yang membahayakan dirinya atau anaknya.
Apa saja yang saya dapat dengan harga Rp 97.500?
Ebook utama sekitar 70 halaman berisi 12 bab, ditambah lima bonus: 30 pertanyaan reflektif, checklist evaluasi, panduan berbicara dengan anak menurut kelompok usia, daftar 21 kalimat yang perlu dihindari, dan workbook “Peta Masa Depan Anak Kita”. Kalau dihitung satu per satu, nilainya Rp 320.000. Harga Rp 97.500 berlaku untuk 100 pembeli pertama; setelah itu harga kembali ke Rp 150.000.
Bagaimana bentuk filenya dan bagaimana cara membacanya?
Berupa PDF ukuran A4. Bisa dibaca di ponsel, tablet, atau komputer, dan bisa dicetak — terutama bagian bonus yang memang dirancang untuk ditulisi dengan tangan.
Sebelum kita memilih bertahan atau berpisah
ANAK
Kalau Kita Bercerai
Sudahkah kita memikirkan anak?
Ebook 70 halaman dan lima bonus, senilai Rp 320.000. Harga khusus untuk 100 pembeli pertama.
Buku ini tidak meminta Anda untuk selalu bertahan. Buku ini tidak meminta Anda untuk segera berpisah. Buku ini hanya mengajak Anda berhenti sejenak.